Home Pendidikan Disdik Tunggu Izin Simulasi PBM Tatap Muka Dari Gugus COVID-19

Disdik Tunggu Izin Simulasi PBM Tatap Muka Dari Gugus COVID-19

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram H Lalu Fatwir Uzali. (Inside Lombok/ANTARA/Nirkomala)

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Pendidikan Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, menunggu izin simulasi proses belajar mengajar (PBM) dengan tatap muka di sekolah dari Tim Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Kota Mataram.

“Meskipun sudah ada anggota tim gugus yang menyatakan Mataram saat ini sudah zona kuning (risiko rendah) COVID-19, namun kita harus menunggu rilis resmi dari ketua tim gugus,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram H Lalu Fatwir Uzali di Mataram, Kamis.

Hal itu disampaikan menanggapi pernyataan Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi yang juga menjadi anggota Tim Gugus COVID-19 yang menyatakan status perkembangan COVID-19 di Mataram saat ini telah turun menjadi zona risiko ringan (kuning), setelah satu bulan lebih dinyatakan masuk kategori zona risiko sedang (oranye).

“Kita memang sudah merencanakan simulasi PBM tatap muka ketika Mataram sudah berstatus zona kuning atau hijau COVID-19. Tapi, kita tetap menunggu izin dari ketua tim gugus,” katanya kepada sejumlah wartawan.

Dikatakan, izin rekomendasi dari Tim Gugus Tugas Penanganan COVID-19, dimaksudkan agar ada yang bertanggung jawab ketika terjadi hal-hal yang tidak dinginkan saat pelaksanaan simulasi PBM tatap muka berlangsung.

“Apabila gugus sudah resmi mengatakan Kota Mataram zona kuning, kita segera melakukan persiapan simulasi selama 2-3 hari. Kalau hasilnya baik, kita akan langsung lanjut PBM tatap muka sesuai dengan protokol COVID-19,” katanya.

Sementara menyinggung tentang sistem simulasi yang akan digunakan, Fatwir mengatakan hal itu masih dibahas dengan para kepala sekolah dan akan ditetapkan cara terbaik untuk siswa SD dan SMP.

“Kita tidak bisa mencontoh tempat lain, sebab kondisi di Mataram berbeda dengan wilayah yang relatif kecil,” katanya.

Oleh karena itu, jika satu sekolah melakukan simulasi PBM tatap muka, maka semuanya harus melakukan simulasi. Begitu sebaliknya, jika satu tidak simulasi maka semua sekolah tidak simulasi.

Kebijakan itu diambil karena kekhawatiran orang tua terhadap penyebaran penularan COVID-19, masih sangat tinggi sehingga pro dan kontra terhadap siswa masuk sekolah masih terjadi sebab siswa yang datang tidak dari satu kampung.

“Para orang tua menyampaikan kekhawatiran secara langsung dan melalui telepon serta pesan singkat. Untuk itu, apabila dilakukan simulasi PBM tatap muka, pihak sekolah juga akan mengajukan surat persetujuan dari orang tua,” katanya. (Ant)