Jalan Menuju Gelap – Cerpen Robbyan Abel Ramdhon

198

Angin akhir bulan November sedikit berair dan suasana terasa mencekam. Helipad di atas rumah sakit juga sepi tanpa helikopter.

Belakangan memang banyak orang mati. Kenapa bulan November membawa banyak kematian? Aku tidak tahu, padahal bulan yang mengambang di langit cuma berjumlah satu. Tidak dua seperti dalam novel 1Q84 karya Haruki Murakami. Tidak pula terjadi tsunami atau wabah dan semacamnya. Tapi belakangan, memang banyak orang mati.

Dan kenapa aku memikirkan novel aneh itu sekarang? Aku juga tidak tahu. Aku tiba-tiba saja membayangkan Tengo dan Aomame – dua tokoh novel 1Q84 – kini tengah hidup bahagia di suatu tempat. Atau mungkin sedang ganas bercinta di balik salah satu jendela kamar apartemen yang terhampar di depan mataku.

Sial. Aku sudah duduk di tepi gedung rumah sakit ini, tapi ketakutanku malah muncrat duluan entah dari mana.

Sejak tadi, penyanyi perempuan di papan iklan itu menatapku. Lebih tepatnya, seakan menatapku. Matanya sejajar dengan gedung tiga lantai yang kududuki sekarang. Tepat di tempat aku duduk dengan kaki menggantung. Tatapannya menembus jantungku, mengalir melalui darah, lalu sampai di otakku yang berkabut bagaikan gedung-gedung penembus awas. Otakku yang berkabut bertanya: “Apakah setelah kau melompat dari sini, kau masih bisa melihat perempuan secantik dia?”

Perempuan itu sepertinya akan merilis sebuah lagu. Karyanya sendiri. Jalan Menuju Gelap (Coming Soon). Begitu tulisan yang tertera di bawah wajahnya yang berkarakter tegas, penuh ambisi bersaing, namun pandai menyembunyikan rasa senang setelah menang.

Jalan menuju gelap.

Diam-diam aku berdoa, semoga lagu itu juga dirilis di Surga. Walaupun apa yang hendak kulakukan sekarang ini adalah semacam penelitian untuk membuktikan apakah Surga itu ada atau tidak.

Di mana hasil penelitianku akan diterbitkan?

Mungkin hanya akan tersimpan di otakku yang berkabut.

Kenapa aku melakukan penelitian semacam itu?

Begini. Pada pertengahan Agustus pagi, aku sedang berolahraga di taman dekat kantor walikota. Taman itu sepi. Tidak terdengar suara apa pun selain suara yang timbul dari gesekan sepatu olahragaku dengan trotoar beton. Bahkan suara burung atau gesekan sayapnya dengan dedaunan pohon juga tidak terdengar, bagaikan belum diciptakan oleh Tuhan. Bumi benar-benar terasa sepi begitu saja. Lalu saat sedang beristirahat di kursi kayu mirip kursi kayu yang diduduki tokoh Forrest Gump selama bertugas menjadi narator dalam film Forrest Gump karya Robert Zemeckis, seorang gadis kecil menghampiriku.

Maaf, bukan menghampiri.

Menghampiri rasanya kurang tepat, karena itu lebih identik dengan gambaran orang berjalan di atas tanah. Sebab gadis itu, turun dari langit seperti pemain sirkus yang menuruni tangga khayalan dengan menggunakan tali pengait transparan di punggungnya.

Tentu saja aku tak sedang berada di gedung sirkus atau teater.

Aku sedang duduk di kursi kayu taman kota yang diapit oleh dua pohon palem dengan langit kotor sedikit berawan di atas kepalaku. Gadis itu turun, dan menciptakan siluet menakjubkan saat tubuhnya menghalangi matahari. Sekilas ia tampak seperti dewa Cupid, namun tanpa busur panah dan sayap kecil di punggung.

Ketika mendarat di hadapanku, angin yang sejak tadi bersikap tenang tiba-tiba mengamuk. Burung-burung yang bersembunyi entah di mana seketika terbang tak beraturan seolah gagal membaca arah musim. Kaki telanjang gadis itu menyentuh darat. Ia mengenakan gaun merah, penutup mata merah, dan rambutnya yang bergelombang juga agak kemerah-merahan seperti api. Tinggi badannya mungkin sepundakku. Penampilan fisiknya seperti manusia berusia tujuh belas tahun. Itu pun kalau tebakanku benar dan ia tidak berusia ribuan tahun seperti dewa-dewa Yunani.

Ia bukan Cupid, tapi Themis.

Ketika itu aku lupa bagaimana caranya merasakan takut. Tubuh dan emosiku lumpuh. Kecuali bola mataku, seakan dibiarkan tetap aktif untuk melihat situasi yang dihadapi pemiliknya. Aku tak tahu apakah gadis itu sengaja mendarat di hadapanku, sedang melihatku atau tidak, atau ia sebenarnya tersesat dan ingin bertanya alamat kepadaku. Matanya tertutup kain. Tubuhnya tak banyak menciptakan gerak. Tangan kanannya terangkat seperti sedang membawa sesuatu yang berbobot, pun tangan kirinya terangkat dengan cara yang sama. Hanya saja tangan kirinya tampak mengangkat bobot yang lebih berat ketimbang tangan kanan.

Dalam keheningan yang sarat tanya, ia tiba-tiba melangkah mendekatiku. Dekat sekali, kemudian berdiri di antara kakiku yang mengangkang. Masih tanpa mengucapkan apa-apa, gadis itu menjulurkan tangannya ke leherku. Menyentuh bagian kerongkonganku seolah memastikan keberadaan sesuatu.

“Aku akan menunggumu di Surga. Tugasmu di dunia ini sudah cukup,” ucapnya sambil menyentuh leherku. Suaranya, persis suaraku. Suara laki-laki paruh baya perokok dan gemar makan makanan yang berminyak. Apakah ia baru saja melakukan impersonate?

“Kamu tidak boleh mengatakan apa-apa setelah kita bertemu.” Ia menghela napas. Menghela napas? “Aku akan mengembalikan suaramu saat kau sudah tiba di Surga.”

Setelah menarik tangannya dari leherku, gadis itu pelan-pelan kembali melayang. Cara yang sama seperti saat ia datang. Mungkin ia pulang ke Surga. Semakin jauh ia melayang, tubuh dan emosiku perlahan mulai aktif seperti semula. Bagaikan roda mesin yang kembali berputar setelah sempat didinginkan. Meski tubuhku sudah bisa digerakkan, aku tak tahu, gerakan bermakna apa yang mesti kulakukan selanjutnya. Mulutku menganga seolah hendak berteriak, tapi tak terdengar suara apa pun.

Gadis itu menghilang di balik awan. Tubuhnya bagaikan tersapu menjadi debu. Dan aku terbangun di ranjang tidur kamarku. Mungkinkah itu mimpi?

Kurasa tidak. Aku bangun di ranjang tidurku masih dengan pakaian olahraga. Jaket Adidas, Jogger pants abu-abu, sepatu Nike. Dan leherku, tepat di bagian gadis itu menyentuhku, terasa dingin yang dalam sampai-sampai menembus hingga ke balik kulit. Aku terperanjat dan berusaha mengeluarkan suaraku. Tetap tak terdengar. Padahal kupingku masih berfungsi dengan baik, bahkan bisa mendengar deru kendaraan di luar sana. Saat menengok ke jendela di samping tempat tidurku, matahari sudah tenggelam. Rumah sakit di seberang apartemenku mencitrakan suasana kematian yang pekat. Sesaat aku berpikir untuk pergi ke sana untuk memeriksakan keadaanku, namun suasana kematian di sekitarnya terlalu menyeramkan untuk didekati.

Surga. Mereka yang mati di sana sudah berangkat menuju Surga.

Jika pertemuanku dengan gadis itu bukan mimpi dan karenanya suaraku menghilang, maka hilangnya suaraku tidak bisa dianggap sebagai gangguan medis belaka. Walau demikian, aku tetap memeriksakannya keesokan hari; saat suasana kematian di rumah sakit sudah dikaburkan sinar matahari pagi.

Seperti dugaanku, dokter tak membacanya sebagai gangguan medis. Aku sehat luar-dalam, katanya. Aku malah dianggap sekadar iseng-iseng mau mempermainkan dokter. Sejak saat itu, aku benar-benar tak tahu harus melakukan apa lagi.

Aku kehilangan pekerjaanku sebagai penyanyi. Mengandalkan sisa-sisa tabunganku untuk bertahan hidup. Aku mulai belajar bahasa isyarat meski akhirnya menyerah dan memilih berkomunikasi menggunakan fitur catatan di ponsel. Kenapa gadis itu mengambil suaraku?

Aku tidak tahu.

Banyak media mengait-ngaitkan hilangnya suaraku ini gara-gara aksi panggung terakhirku yang dianggap kontroversial, setelah di sela-sela sebelum membawakan lagu terakhir, aku berujar: “Suaraku lebih besar ketimbang suara Tuhan yang cuma bersembunyi di dunia khayalan. Suaraku bisa didengar dan menggetarkan dedaunan. Nyata dan punya suhu. Bernyanyi bersamaku, berteriak sekencang-kencangnya, sampai suara kita menembus dinding langit!” kepada ribuan penonton.

Aku tidak menceritakan pada media bagaimana seorang gadis datang dari langit kemudian mengambil suaraku. Lagi pula, kalau kuceritakan, apakah mereka akan percaya? Ya, memang ada kemungkinan mereka percaya.

Mungkin, besok pagi mereka juga akan menulis berita tentang nasib tragis yang menimpa seorang penyanyi ateis. Senyumku tak tertahan memikirkan tajuk berita itu. Ketakutanku yang sebelumnya muncul mendadak menghilang.

Sempat aku menganggap keraguanku tentang keberadaan Surga terasa sedikit dibuat-buat dan kekanak-kanakan. Tapi kenapa gadis itu tidak menyebut neraka? Aku mendongak, siapa tahu bisa melihat neraka dari atas gedung rumah sakit ini.

Tapi tidak terlihat. Mungkin disembunyikan di tempat lain. Atau, bumi ini, sejatinya adalah neraka?

Malam ini helikopter tidak ada di tempatnya. Barangkali sedang menjemput pasien atau orang mati di tempat yang teramat jauh.

Besok, dokter yang pernah memeriksa kondisiku, paling tidak akan mengernyit atau menyunggingkan gigi saat membaca berita, seraya mengingat kenangan terakhirnya bersamaku.

Aku mendorong tubuhku ke depan.

Tubuhku tidak jatuh begitu saja. Seperti bulu yang luruh dari ekor burung. Perlahan-lahan.

Selama aku luruh, penyanyi perempuan di papan iklan itu terus menatapku. Tatapan yang menyiratkan arti sebuah kemenangan. Jalan menuju gelap. Aku menyeringai membaca tulisan di bawah wajahnya.

Dan, lagi, aku terbangun di ranjang tidur di apartemenku.

Apakah tadi itu mimpi? Aku mengenakan pakaian yang sama seperti saat aku bertemu gadis dari langit. Themis. Aku menengok ke luar jendela, ke rumah sakit seberang apartemenku. Malam yang sepi, kali ini tidak terdengar deru mobil. Aku melihat seorang laki-laki sedang duduk dengan kaki menggantung di tepi atap gedung rumah sakit itu. Tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu. Sesuatu yang rumit dan tak mungkin dimengerti oleh orang lain termasuk dirinya sendiri, sampai-sampai dia memutuskan menjatuhkan tubuhnya dari atas sana; sesaat setelah mendongak ke langit.***

IMG 20220313 WA0010Robbyan Abel Ramdhon, adalah penulis cerpen dan esai. Karya-karyanya terbit di berbagai media cetak dan digital. Bekerja sebagai jurnalis. Dapat ditemui di aku Facebook Robbyan Abel R dan Instagram @Robbyan.abel.