Sepatu Kusam yang Berjalan dari Senaru – Cerpen Za’idatul Uyun Akrami

250
Ilustrasi oleh Nuraisah Maulida Adnani

Kau berlarian saat matahari tepat di atas kepala. Debu beterbangan akhirnya menempel di wajahmu dan berpadu dengan keringat yang sudah seringkali kau usap. Kau tidak peduli dengan panggilan ibumu yang menyuruhmu tidur siang agar tak mengantuk saat mengaji di rumah Kakek Haji. Bagimu tidur siang itu neraka. Mungkin kau tidak tahu kalau orang dewasa justru mengharapkan kesempatan tidur siang tanpa harus memikirkan cicilan dan tanggungan. Benar saja, kau hanya pulang sebentar untuk makan sayur kelor dan sambal goreng tempe, lalu pergi lagi melanjutkan sesi bermainmu yang tanggung untuk kau sudahi.

Tepat perkiraan ibumu, menjelang magrib kau justru menguap bahkan setelah kau mandi. Sayangnya, tak pernah alasan mengantuk diterima. Seharusnya kau cari alasan lain saja. Misalnya, tiba-tiba pusing.

“Bu, Bapak kapan pulang?” tanyamu sembari mencari-cari kopiah hitam yang selalu longgar di kepalamu yang entah kau buang di mana.

“Katanya sedang di jalan, ashar berangkat pulang dari sana. Mungkin lekas isya baru sampai.” Ibumu duduk di kursi sambil mengelus adikmu yang dua bulan lagi akan lahir ke dunia. Ibumu terlihat kepayahan. Hamilnya kali ini lebih melelahkan dibanding saat mengandungmu.

“Apa aku nggak usah ngaji aja, Bu. Aku mau nunggu Bapak pulang. Bapak janji bawa oleh-oleh.” Kau masih mencoba merayu dengan alasan yang kala itu terdengar lebih menyentuh.

“Paling nanti malam juga ketemu.” Ibumu menjawab pendek. Tidak ada posisi tawar, kau harus segera berangkat pergi mengaji. Ibumu selalu bilang, mengaji sama dengan sekolah, tidak boleh sering bolos.

Setiap kali ada bencana, bapakmu akan mulai pergi ke mana-mana. Sepatu kusam yang biasanya teronggok di rak akan dipakainya. Warnanya hitam bercampur biru tua. Dulu hitam dan birunya mengilap, tetapi setelah lelah bertemu panas dan hujan, warna itu jadi memudar. Itu sepatu lapangan bertali, jelas tidak dipakai orang kantoran. Tentu saja ada sepatu lainnya, tapi hanya itu yang dibawanya ke tempat bencana. Kata ibumu, bapakmu relawan seperti Superman yang suka membantu orang. Dalam benakmu ada pertanyaan, “Kenapa Bapak cuma ajak sepatunya waktu pergi bantu orang. Kenapa tidak ajak aku? Aku juga ingin keliling-keliling bantu orang.”

Ahad yang lalu memang ada gempa. Saat itu masih pagi, saat bumi beriak-riak seperti permukaan air bejana yang digoyang. Kau yang baru pertama merasakan gempa dalam hidup berlari pulang, batal pergi bermain kelereng padahal kau sudah merencanakan itu bersama teman beberapa hari sebelumnya. Namun, goyangan itu berhenti setelah dua kali dan kau kembali membawa botol berisi kelereng menuju ke halaman lapang milik tetangga. Hanya sedikit saja gempa itu membuatmu gentar.

Esoknya bapakmu pergi ke Senaru. Ternyata di sana banyak rumah rusak. Ada pula yang meninggal meski hanya satu-dua. Ibumu yang sudah ikhlas menjadi istri relawan mengangguk saja saat suaminya itu izin. Dia sudah biasa ditinggal berlama-lama demi panggilan jiwa suaminya. Katanya saat masih kuliah dulu, ibumu pun sering seperti bapakmu. Kalau sudah ada bencana, mesti dia keliling menghibur anak-anak yang terkena dampak bencana.

Susah sekali bagimu menahan kantuk magrib itu. Saat zikir-zikir usai salat berjamaah, kau berkali-kali menutup mulutmu yang menguap. Main layangan hari itu lumayan melelahkan. Di kiri-kananmu, teman mengaji mulai melantunkan asmaul-husna. Kau hanya mengikuti seadanya.

“Ya Allah, Ya Rahman, Yaa Rahiim, Ya Maliik, Ya Quddus, Ya Salaam …..”

Saat selesai zikir, sembilan puluh sembilan nama Tuhan itu memang selalu dilantunkan dengan suara yang merdu bersama-sama dengan tempo yang tak cepat juga tak lambat. Tak boleh ada yang mendahului imam yang memimpin. Kakek Haji selalu siap sedia membawa kayunya jika sewaktu-waktu ada yang bermain-main. Tak boleh ada yang berteriak-teriak saat menyebut nama Tuhan.

Semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang berbeda. Guru mengajimu membetulkan kesalahan panjang pendek yang kadang kau ulangi. Sebentar lagi kau mau tamat iqra’. Bapakmu berjanji akan menyembelih ayam kampung untuk tasyakuran dan mengundang teman-temanmu di rumah kalau kau sudah mulai Al-quran. Kau senang bukan kepalang mendengar itu.

Semua baik-baik saja. Tidak ada yang berbeda dengan malam itu. Setidaknya sebelum azan isya berkumandang.

“Allahuakbar, allahuakbar, laa ilaaha illallah ….”

Tiba-tiba saja sesuatu itu terjadi. Satu detik, dua detik, “Lindur …!” Kaca jendela di tempat mengajimu bergetar. Ramai para santri berhamburan. Kau ikut berlari, berdesakan keluar pintu. Tanah terus bergoyang. Sekejap, lampu mati. Gelap tapi riuh. Gemuruh entah dari mana datang padahal sedari tadi tak ada mendung dan hujan. Langit gelap, segelap pikiranmu yang terseok memahami sekitar. Sekelilingmu berteriak memanggil nama Tuhan. Tanah masih saja bergoyang. Teman-temanmu yang bermukena putih saling berpelukan. Kau lihat Kakek Haji yang sudah renta juga berjongkok di sana. Tanah terus bergoyang. Sudah ada temanmu pingsan. Teriakan belum berhenti. Untung saja mereka menyebut nama Tuhan sambil menangis meminta ampunan. Perlahan kau lihat atap tempat mengajimu runtuh, satu demi satu genteng pecah bertemu tanah. Tiga puluh detik yang menakutkan itu berlalu. Sekarang hanya tersisa tangisan.

Belum genap keterkejutanmu, teriakan yang lain datang, “Tsunami …!” Kau tidak tahu tsunami itu apa, tapi orang yang berjongkok semuanya berhamburan. Berlari layaknya inai-inai beterbangan. “Pergi ke tempat lebih tinggi …!” Kau ikut berlari tapi menuju arah jalan pulang ke rumahmu. Tak sekali kau bertubrukan dengan orang lain hingga kau terjatuh. Motor-motor mulai menderu. Ada orang yang berbonceng tiga, ada orang yang hanya keluar memakai baju dalam, ada juga yang merengek sebab motornya kehabisan bahan bakar. Semua orang ingin pergi ke tempat lebih tinggi. Namun, kau hanya ingin pergi ke rumahmu.

Hampir sampai di rumah, tetanggamu menarikmu menjauh padahal kau ingin bertemu ibumu. Dia menangis melihatmu, terus mendekapmu yang mencoba berontak. “Jangan! Jangan! Rumahmu berbahaya!” Lagi-lagi kau tak paham situasinya. Kau hanya ingin memeluk ibumu.

Sampai kau lelah, sampai kau mengantuk, tetanggamu tak melepaskanmu dari dekapannya. Kemudian kau tertidur setelah menatap langit dan bintang yang mulai menampakkan diri malu-malu.

Tuhan membangunkanmu esok pagi hanya untuk membiarkanmu melihat sepatu kusam hitam biru milik bapakmu menyembul di antara puing reruntuhan rumahmu. Bumi terus saja bergetar padahal tidak ada lagi yang bisa diambil darimu.

Lalu kau mendengar tetanggamu berbisik satu sama lain, “Kasihan Ali. Dia sekarang hidup sendiri.”

Sumbawa Barat, 6 Agustus 2021.

Za’idatul Uyun Akrami lahir, tumbuh, dan membangun idealismenya di Lombok. Baginya hidup adalah proses bertumbuh setiap hari dan menulis adalah salah satu cara bertumbuh yang paling disukainya. Selain menulis, ia menghabiskan waktu dengan menjadi copywriter dan mengajar anak-anak. Cerpen yang ditulisnya dapat dibaca di beberapa antologi bersama seperti _Lemonious Love, Mengheningkan Cinta, Mula, dan Hujan_.