Kita yang Membebek – Puisi Ichsan Nurseha

137
Kita yang Membebek (Ilustrasi Nuraisah Maulida Adnani)

Jamban Sosial-Media

Di banyak forum-forum yang agung
Ataupun sekaliber warung dan pos ronda.

Seringkali, kita memang tidak terlatih
untuk bersikap jujur dan menyiapkan
lapangan yang dada di hati kita!

Untuk menyatakan bahwa yang sering
kita dengungkan dalam wacana dan gelisah-gagasan
hanya berhenti menjadi gincu dalam diskusi yang ada.

(Misal, konteks daya baca buku rendah);

“Mustinya kita terus blaa..blaa..blaa..blaaa..blaaa.
karena daya baca buku “masyarakat” kita blaaa…blaa..blaa.blaa…”

(sama hal, ketika berbicara puisi dan buntutnya);

“Selera “masyarakat” kita sangat jauh blaa..blaa…blaa..blaa…Maka dari itu, kita musti_ _bla..blaa.blaa…blaa…blaa..blaaa….”

Itu contoh sedikit dari banyak yang ada, hal itu bisa menyelubungi apa saja; politik, ekonomi, sosial, dkk-nya!

Maka, sepintar-pintar kita sebagai manusia,
memang pantas dicap dungu sekaligus bodoh!
–Mau sudah kuliah, jadi profesor, dan menangkup banyak gelar di sesudah nama pemberian kedua-orangtua atau yang lain–, tetap saja merugi. Sebab sejatinya, manusia kerugian.

Mau untung? Tho, kita memang tidak punya apa-apa.
Semua yang ada di sekitar dan nempel pada diri kita ialah titipan semata. Bukan punya kita. Bukan!

Kalau sudah begini, seperti pepatah;
“Gajah di pelupuk mata tak terlihat, namun semut jauh di seberang nyata terlihat.”

Tangerang, 2022

Kita yang Membebek

Kita yang seringkali membebek
terhadap – tiga puluh juta seniun-niun
ihwal dan perihal di sekitar kita.

Sebentar-sebentar, ikut
Kemudian terbiasa dan nyemplung
dalam pusara arus yang cepat!

Di mana, mungkin, hati dan pikiran kita
merasa bukan.
Di mana, mungkin, hati dan pikiran kita
berkata tidak.
Di mana, mungkin, hati dan pikiran kita
seringkali tidak digunakan.

Sebab dahaga-nafsu seringkali diutamakan;
kita lepas dan umbar-umbar
menjadi gaya hidup yang pasti.

Jika kita tidak melakukan
Ohh!
Rasanya ingin bunuh diri!

Tangerang, 2022

Kesadaran Upaya Penuh

Sampai akhirnya,
semua yang berlaku
memang musti kembali
ke dalam diri.

Di tengah pusara banjir data
dan kepungan belantara algoritma,
Kita seringkali tak mampu menguasai diri.

Tangerang, 2022

IMG 20220515 WA0002Ichsan Nurseha, pemuda kelahiran Jakarta yang kini singgah di Tangerang.