Mayura – Puisi Abed Ilyas

92
Mayura (ilustrasi oleh Nuraisah Maulida Adnani)
IMG 20220327 WA0000
Mayura (ilustrasi oleh Nuraisah Maulida Adnani)

Setiap Hari Sehabis Subuh

di hadapan tungku nenek meramu
selarik musik dari nyala kayu
musik gelembung dalam dandang:
memutihkan langit,
menghitamkan langit-langit
selain bunga, tubuhnya
menyumbang satu keharuman di mekar pagi

di sisi lain tungku, duduk kakek
menghangatkan sisa subuh: mengendap di dasar tubuh
nyala bara berpindah ke ujung tembakau. matahari berulang-
ulang dikembalikan kokok ayam. barisan merpati
mencabik lembar angin, bunyi kalung telah diisi
kudengar sebagai lagu yang menyeberangkan hari

Mayura

sore menemaniku duduk menghadap utara
bekas bangunan, di tengah kolam
pohon-pohon menebalkan angin
nyanyian burung-burung disoraki mesin

setapak jalan serupa lidah
dari pintu bale kambang yang menganga
mataku berebut tangkap mata kamera
melotot pada seorang gila
tertunduk membatu bertelanjang dada

di barisan patung penjaga
diam-diam ia merapal mantra
tubuhnya dikirim kamera menuju dunia maya
sedang jiwanya menari dalam dunia tak kasatmata

sayup sholawat dan tembang bersahutan
terdengar bagai sepasang saudara
mengamini kepulangan cahaya

Sesaot

putaran waktu dalam adukan kopi
menciptakan gelembung warna: meletuskan
kilau matamu. di mataku kepulan asapnya
serupa partitur: dihisap langit

sebelum kepungan malam, kukumpulkan kata
dari guguran daun. menyusunnya jadi sampan
kuhanyutkan bersama air mata gunung
yang menangis sepanjang musim

hutan ini akan terbakar pekik manusia

butir-butir gula hujan di atas sisa hutan
memekarkan bau kopi seduhan nenek
dari langit hitam untuk hantu-hantu

Gili Maringkik

laut susut. berjalan aku di atas punggung naga pasir
bersisik kerang. sekumpulan kepiting lari menyamping:
menyimpang dari lurus jalan

sampai aku di kepalanya. duduk di atas ayunan
dari sepasang sungut. mengamati bola cahaya
membakar langit hingga hangus

menerangi jalan untuk kembali. setiap tiga langkah
angin berteriak di telingaku seperti tangis kambing

Sapu Ijuk

setiap pergantian musim
kakek bertopi caping datang
ke rumahku. memikul sapu dan gerabah
berbekal sepotong gula merah

di kukunya rahasia hutan menebal

sapu dibeli ibu sebagai teman melagukan kesunyian
tatkala rumah hanya mempekerjakan ia seorang
bila kencing mengutuk kantuk
ibu mencabut sehelai ijuk, mengikatnya di jempol kakiku

IMG 20220327 WA0001Abed Ilyas lahir di Mataram, Lombok, 23 Agustus 1997. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Mataram.