Mengenal Budaya Lombok Melalui Pesona Budaya Desa Pengadangan

Lombok Timur (Inside Lombok) – Sebuah acara Pesona Budaya Desa Pengadangan di Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur yang diselenggarakan oleh Pemerintah Desa dan Karang Taruna Jungkat Sakti merupakan acara pengenalan salah satu budaya di Lombok. Acara sudah mulai dilaksanakan pada 14 November lalu yang merupakan acara pembukaan hingga 20 November 2018.

Tujuan Pesona Budaya ini diadakan untuk memperkenalkan budaya dan adat istiadat pada zaman dahulu kepada generasi muda di Desa Pengadangan dan juga warga Lombok.

“Agar para generasi muda mengetahui dan mencintai budaya tempat tinggalnya sendiri serta anak muda di luar Desa Pengadangan lebih banyak mengetahui tentang pengadangan sehingga berniat untuk mengunjungi desa ini,” ungkap Rosyida, salah satu panitia acara, Senin (19/11/2018).

Rangkaian acara pembukaan Pesona Budaya Desa Pengadangan ini yakni berupa prosesi penyambutan tamu, lentas kesenian tradisional “Doe Pengadangan” (Selober, Ceroncong, Gendang Beleq, Rantok, dan Kecimol), Kirab 100 Shalawat dan Shalat Ashar berjamaah, pembukaan Prisean, sambutan-sambutan, memanuang akbar, prosesi Betetulak, begibung.

Betetulak merupakan salah satu tradisi yang biasa dilakuan oleh masyarakat Desa Pengadangan untuk tolak bala. Kegiatan ini mengajak semua masyarakat untuk berkumpul di satu titik tempat sembari berdoa yang dipimpin oleh tokoh agama.

Sesaat setelah berdoa maka kegiatan diakhiri dengan melaksanakan makan bersama atau biasa disebut begibung. Akan tetapi dalam kegiatan ini warga yang berpatisipasi dihimbau untuk tidak membawa pulang sisa makanan tersebut. Ada sekitar 3000 warga yang berpatisipasi dalam acara ini.

“Tanggal 15 sampai 19 November 2018 Perisean dilaksanakan setiap sore,” ujar Rosyida.

Tepat tanggal 19 November di malam hari dilakukan kegiatan Njeleng 1000 Hajat. Kegiatan ini dilaksanakan di Masjid Jamifarurrahman, yang merupakan masjid utama di Desa Pengadangan.

“Jeleng 1000 hajat adalah proses pembuatan minyak dari kelapa yang dicampur dengan bumbu tertentu dan doa, kemudian minyak yang mendidih diaduk menggunakan tangan langsung tetapi minyak hasil jeleng ini berkhasiat menjadi obat,” jelasnya.

Rangkaian kegiatan Jeleng 1000 hajat ini dilaksanakan oleh 99 orang yang mengenakan pakaian berwarna putih, angka yang melambangkan asmaul husna. Sebelumnya diadakan zikir bersama. Lalu sebanyak 13 dari 99 orang mengupas kelapa atau disebut “manges nyiur”, dan sisanya memarut secara manual. Arti 13 orang ini melambangkan jumlah rukun solat.

“Setelah semua selesai diparut, kemudian ngames nyiur menggunakan 5 paso tanah yang melambangkan jumlah rukun islam, kemudian dimulailah proses njeleng, air kelapa dimasak berjam-jam sampai menjadi minyak dan ketika mendidih, diaduk menggunakan tangan,” terang Rosyida.

Puncak acara yang dibalut dengan peringatan Maulid Nabi ini akan diadakan Mulud (maulid) Beleq. Menurut Rosyida, Mulud Beleq ini terakhir diadakan kurang lebih 30 tahun lalu.

Beberapa rangkaian untuk kegiatan Mulud belek ini yakni Prisean sebagai lambang perlawanan hawa nafsu, kemudian Praja Mulud yang terdiri dari 3 laki-laki (Praja) yang merupakan anak penghulu desa, kepala desa, dan anak kadus. Praja Mulud ini diusung oleh dua orang menggunakan tangan membentuk segi empat sembari berjalan menuju masjid yang diiringi oleh Gambelan Belek.

Selain itu ada pengukuhan kiyai desa dan penghulu desa, sunatan massal, santunan anak yatim, dan Ngengurisang massal atau berkuris anak bayi. (IL4)