Antisipasi PMK, Pemkot Mataram Stop Kiriman Sapi dari Jawa dan Sumbawa

34
Salah satu kandang ternak di Lombok Barat (Inside Lombok/Azmah)

Mataram (Inside Lombok) – Penularan penyakit mulut kaki (PMK) pada sapi di Indonesia mulai menyebar hingga ke daerah, termasuk NTB. Meskipun penyakit tersebut belum ditemukan di Kota Mataram. Namun langkah antisipasi sudah mulai dilakukan dengan menyetop pengiriman sapi dari luar daerah, termasuk Pulau Sumbawa.

Kepala Bidang (Kabid) Peternakan pada Dinas Pertanian Kota Mataram, drh. H. Dijan Ryatmoko, Kamis (11/5) di Mataram mengatakan, untuk memastikan penyakit tersebut tidak menyebar ke Kota Mataram, tim akan turun langsung ke lapangan.

“Di Kota Mataram sudah tidak boleh memasukkan ternak dari Pulau Jawa dan sampai Sumbawa sudah mulai distop. Itu sudah mulai kemarin. Kita akan mengintensifkan pengawasan untuk kedepannya. Sampai kemarin belum ada informasi adanya penyakit tersebut yang mengarah ke Kota Mataram,” katanya.

Ia menerangkan, beberapa kabupaten di Lombok sudah mulai dicurigai adanya penyebaran PMK pada sapi. Dengan adanya informasi tersebut, Pemkot Mataram mulai melakukan antisipasi yang ketat agar tidak masuk ke Kota Mataram. Pasalnya, Kota Mataram juga memiliki pasar hewan di Selagalas.

“Kan ada pasar ini di Selagas. Kita melakukan monitoring setiap hari. Kita juga melakukan jejaring dengan kelompok-kelompok peternak. Supaya kalau ada yang sakit dilaporkan secepatnya,” kata Dijan.

Upaya lain yang dilakukan yaitu jika menemukan gejala-gejala PMK pada sapi akan diisolasi. Selain itu, untuk sementara waktu kandang akan tutup dan disemprotkan cairan disinfektan serta pemberian obat-obatan.

“Gelajanya itu seperti sariawan, luka-luka melepuh pada bibir, gusi sapi atau kerbau dan juga ada di kaki,” terangnya.

Untuk memaksimalkan upaya pencegahan PMK pemerintah daerah berwacana menutup pasar hewan sementara waktu. Namun wacana ini masih belum bisa dieksekusi karena ada pertimbangan lainnya.

“Sedang disusun langkah bersama mungkin SK gubernur penutupan pasar. Ini masih disusun wacananya karena belum pasti. Karena kita tidak bisa kendalikan kalau pasar tetap dibuka,” ungkapnya.

Dijelaskannya, PMK hanya terdapat pada sapi dan bukan manusia. Jika sapi tersebut terinfeksi, dagingnya masih bisa dikonsumsi dengan diolah melalui proses-proses yang higienis dan dimasak hingga matang.

“Alhamdulillah selama ini belum ada terlaporkan penyakit ini ada pada manusia. Tetap direbus ya, karena darahnya yang kita khawatirkan sebagai sumber penularan bagi hewan yang lain,” pungkasnya. (azm)