Pedagang di Eks Pelabuhan Ampenan Angkat Bendera Putih Tanda Menyerah

Para pedagang di Eks Pelabuhan Ampenan angkat bendera putih tanda menyerah dengan kondisi saat ini. (Iniside Lombok/Azmah)

Mataram (Inside Lombok) – Puluhan pedagang di Eks Pelabuhan Ampenan memasang bendera putih di masing-masing lapak jualannya. Mereka menjadi perwakilan bagi 103 pedagang di lokasi tersebut.

Bendara putih yang dipasang menandakan para pedagang menyerah. Karena kebijakan pemerintah pada saat pandemi Covid-19, menyebabkan pedagang rugi.

Kepala Lingkungan Melayu Bangsal Keluarahan Ampenan Tengah, Sukini Jum’at (30/7) di Mataram dalam orasinya mengatakan, penerapan kebijakan PPKM Level 4 membuat para pengunjung sepi. Dalam sehari, jumlah pembeli hanya satu orang dan bahkan tidak ada sama sekali. Sementara barang-barang jualan hanya bisa dipakai sehari. Jika dijual untuk keesokan harinya maka akan memengaruhi rasa dan bahkan basi.

“Selama ini kami selalu tekankan kepada warga untuk pakai masker, ikuti peraturan pemerintah tutup kapan. Tapi setelah kami lakukan, kami tidak mendapatkan perhatian apa-apa,” katanya

Meskipun pemerintah melonggarkan jam operasional mulai pagi hari, namun hal ini tidak berjalan efektif. Pasalnya, pengunjung biasanya ramai datang sekitar pukul 17.30 wita. Selain itu, selama penerapan PPKM Level 4, pengawasan tetap dilakukan oleh petugas.

“Jam 17.00 wita kami buka dan 20.00 wita kami harus tutup. Jadi kan warga merasa ketakutan, mobil patroli bertruk-truk. Baru pesen es dan diminum sedikit terus lari. Pesanan belum bayar. Pedagang yang masak sate kan basi dia. Tidak kita siapkan, pembeli butuh itu,” katanya.

Selain mengeluhkan sepinya pembeli, para pedagang di Eks Pelabuhan Ampenan juga mengeluhkan tidak adanya bantuan yang diberikan kepada para pedagang.

“Orang-orang di luar sana dibantu dan kita di sini disisihkan.Tolong dibantu orang-orang di sini. Minimal beraslah,” katanya

Keluhan yang sama disampaikan Ketua Kelompok Pedagang Eks Pelabuhan Ampenan, Indari Sucipto. Ia meminta adanya kelonggaran dari koperasi – koperasi yang ada. Karena selama PPKM diberlakukan, tidak ada pendapatan yang diperoleh sehingga tidak ada untuk menyetor angsuran.

“Kita tidak menyetor dikira penipu. Mana pemasukan tidak ada,” katanya

Sementara itu, Camat Ampenan Muzakir Walad mengatakan, minimnya pengunjung yang datang ke salah satu destinasi andalan di Kota Mataram tersebut karena dipengaruhi pandemi Covid-19. Karena dibatasi sampai pukul 22.00 wita.

“Hampir sama dengan waktu sebelumnya. Ada pembatasan untuk jumlah pengunjung. Untuk makan di tempat saja yang kita memang untuk menghindari keramaian. Kalau jumlah pengunjung kita tidak bisa prediksi. Karena orang juga belum mau ke sana,” kata Camat Ampenan ini.

Terkait dengan bantuan kepada para pedagang, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti. Karena program bantuan yang disalurkan sudah ada data penerima.

“Nama-nama itu dipegang oleh koordinator PKH. Bantuan yang belum didapat itu bantuan seperti apa kan harus jelas. Nanti kita lihat by name by address nya ya,” ujarnya.