Pelayanan Dinilai Buruk, Bupati Minta Staf RSUD Praya Introspeksi Diri

Bupati Loteng, H. Suhaili FT saat peresmian gedung sekretariat dan Instalasi Bedah Sentral RSUD Praya, Rabu (13/10/2020). (Inside Lombok/Ida Rosanti)

Lombok Tengah (Inside Lombok)- Bupati Kabupaten Lombok Tengah, H. Suhaili FT menyoroti buruknya pelayanan dan kualitas sumber daya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya.

Dia menilai kualitas pelayanan yang kurang bagus di RSUD Praya merupakan persoalan klasik dan sudah menjadi penyakit akut.

“Mudahan ini bisa jadi cambuk untuk lebih maju. Introspeksi diri kita. Ini penyakit rumah sakit kita ini yang sudah akut”,kata Suhaili saat meresmikan gedung sekretariat dan Instalasi Bedah Sentral RSUD Praya, Rabu (14/10/2020).

Dia menilai penyebab belum adanya perbaikan pelayanan dan SDM di RSUD Praya karena belum ada kemauan dan kesadaran sumber daya yang ada. Sehingga kualitas pelayanan yang ada tidak kunjung mendekati harapan. Termasuk masalah etos kerja.

Pegawai rumah sakit lanjutnya, mulai dari staf penerima pasien hingga tenaga medis, banyak yang tidak ramah kepada pasien.

“Masih sepet, pongket. Lebih-lebih yang datang itu adalah Inak-inak pakai sandal jepit yang keliatan miskin. Padahal mereka adalah majikan kita”,ujarnya.

Selama ini juga banyak masyarakat yang lebih memilih berobat ke fasilitas kesehatan yang lain dibandingkan dengan berobat di RSUD Praya. Penyebabnya lagi-lagi adalah pelayanan rumah sakit.

Kondisi itu menurutnya menjadi tamparan keras bagi rumah sakit.

“Itu adalah tamparan keras bagi kita semua. Ini camkan baik-baik. Kalau masyarakat Loteng lebih nyaman berobat ke luar RS Praya itu pukulan bagi RS ini”,tegasnya.

Apalagi, persoalan ke depan akan semakin kompleks dengan keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika. Jangan sampai wisatawan lebih memilih berobat ke Mataram dibandingkan RSUD Praya yang lebih dekat.

Dia juga mengatakan, salah satu penyebab buruknya pelayanan rumah sakit karena ada yang menganggap dirinya sebagai raja-raja kecil yang di bagian tertentu yang tidak berani “disentuh”.

Sehingga dia mengintruksikan jajaran direksi untuk memecat mereka yang tidak mau andil memperbaiki kualitas pelayanan.

“Kalau ada yang tidak mau berubah untuk meningkatkan pelayanan, jangan sungkan singkirkan mereka dari tempat ini”,tegasnya.

Dengan berbagai persoalan yang ada tersebut, dia berharap keberadaan gedung baru yang telah dibangun bisa membawa perbaikan. “Karena percuma gedung mentereng. Akan sia-sia kalau tidak ada perubahan”, tegasnya.

Sementara itu, Direktur RSUD Praya, dr. Munakir Langkir mengakui bahwa pelayanan di RSUD Praya memang belum maksimal. “Ada yang kadang sambil pegang HP dan masih acuh tak acuh melayani pasien”, katanya.

Ke depan, dengan gedung baru yang ada diharapkan pegawai rumah sakit bisa lebih terbuka, ramah dan santun dalam melayani masyarakat.