Sektor Industri Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Merata di NTB

26
Ilustrasi sektor industri (Image source : kompasiana.com)

Mataram (Inside Lombok) – Pertumbuhan ekonomi di triwulan I 2022 sebesar 0,92 persen didorong oleh sektor pertanian. Sedangkan sektor lainnya mengikuti bahkan ada yang rendah kontribusinya pada ekonomi. Sehingga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi merata pada seluruh sektor, yakni dengan peningkatan sektor industri yang memiliki keterkaitan antar sektor yang ada.

Pengamat ekonomi Universitas Mataram, Dr Firmansyah, menyebut keterkaitan antar sektor adalah hal yang penting. Seperti sektor pertanian tumbuh didorong untuk pemanfaatan sektor industri, maka industri juga akan tumbuh. Ketika industri tumbuh maka sektor jasa, perdagangan juga tumbuh. Dengan begitu sektor industri menjadi kunci menyebar distribusi pertumbuhan secara merata. Sehingga pertumbuhan ekonomi tidak ditunjang oleh satu sektor saja.

“Artinya sektor pertanian kalau dia masih parsial diproduksi, di jual mentah, dan segala macam maka belum diperluas pemerataanya. Kata kuncinya itu tadi industri, misalnya ada pertumbuhan sektor pariwisata maka sektor industri apa kiprahnya untuk memanfaatkan kemajuan pariwisata,” jelas Firmansyah, Selasa (17/5).

Pergerakan sektor industri diyakini bisa mendorong barang dan jasa. Membaiknya ekonomi NTB pada triwulan 1-2022 sebesar 0,92 persen (q to q) atau 7,76 persen (y to y), perlu diwaspadai pula perkembangan inflasi daerah. Sebab, ketika nilai tambah suatu barang semakin bagus didukung dengan margin pendapatan masyarakat juga bagus, maka harga barang-barang juga ikut merangkak naik.

“Ketika orang semakin banyak memegang uang otomatis kemungkinan harga-harga juga ikut naik. Logikanya, barang terbatas kemudian orang banyak pegang uang maka berapapun harganya tetap akan dibeli itu barang,” ungkapnya.

Ditambah lagi kenaikan harga yang menyebabkan inflasi naik secara riil, berasal dari cost inflation dari harga BBM. Akibat kenaikan biaya BBM juga menyebabkan inflasi memang harus diwaspadai. Perbaikan ekonomi masyarakat akibat dari kenaikan dari bahan bakar, secara idealnya dengan pertumbuhan ekonomi itu rill atau berkualitas, maka Inflasi diseimbangkan oleh pertumbuhan ekonomi.

“Cuma pertanyaan sejauh mana pertumbuhan ekonomi itu tersebar. Apakah di semua sektor? Kalau masih terbatas di beberapa sektor saja mendongkrak atau berkontribusi belum kita anggap sebagai pertumbuhan yang belum berkualitas,” terangnya.

Dikatakannya, maka itu hanya akan tumbuh di satu sektor saja seperti pertanian yang mendongkrak pertumbuhan ekonomi sejak beberapa tahun ini. Tetapi jika sudah merata dari pertanian, jasa-jasa, perdagangan itu berkontribusinya bagus, tentu pertumbuhan ekonomi sudah semakin merata.

Pada sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor berkontribusi sebesar 13,54 persen; sektor konstruksi berkontribusi sebesar 8,60 persen sedangkan sektor administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib hanya menyumbang 5,79 persen.

“Tapi kalau sudah merata dari semua sektor ini, ekonomi merata maka kemungkinan gini indeks akan turun,” katanya.

Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan I-2022 mencapai 0,92 persen (q to q) atau 7,76 pern (y to y). Untuk sektor pertanian, perikanan dan kehutanan berkontribusi sebesar 21,91 persen; sektor pertambangan dan galian berkontribusi sebesar 20,07 persen.

Menurutnya, ketika sektor industri bertumbuh bakal memberikan multi efek lebih besar dan luas. Hal inilah yang harus dipikirkan, membuat keterkaitan setiap sektor dengan sektor industri.

“Saya rasa ini salah satu upaya untuk penyeragaman, pemerataan pertumbuhan ekonomi NTB ke depan,” tandasnya. (dpi)