Tahun Depan NTB Punya Penggilingan Padi Modern

61
Pabrik Modern Rice Miliing di Sumbawa yang siap beroperasi tahun 2023 (Inside Lombok/Devi)

Sumbawa (Inside Lombok) – Progres pembangunan infrastruktur Modern Rice Milling Plant (MRMP) atau penggilingan padi/gabah modern di Sumbawa memasuki tahap akhir. Nantinya akan mulai beroperasional pada tahun 2023. Modern rice milling plant merupakan bagian dari proyek pengembangan infrastruktur pascapanen Bulog.

“Memang direncanakan sesuai dengan kesepakatan kontrak pekerjaan akan berakhir November 2022. Kemudian kita uji coba pada Desember dan Januari. Maka kita akan beroperasi pada Februari (tahun 2023),” ujar Pimpinan Wilayah Perum Bulog NTB Abdul Muis, Senin (26/9).

MRMP mampu menyerap seluruh hasil panen gabah petani untuk ditampung dan dikeringkan oleh mesin pengering dan disimpan di mesin silo, serta dapat menghasilkan beras premium namun dijual dengan harga setara dengan kualitas medium dan meminimalisasi potensi tengkulak dalam membantu kesejahteraan petani.

“Dengan mesin proses seperti ini kita akan mendapatkan kualitas beras medium maupun premium. Artinya nanti beras yang akan dihasilkan, kita bisa dapatkan beras utuh tanpa broken, tanpa menir, tanpa butir-butiran kecil,” terangnya.

Adanya pabrik MRMP ini mampu menghasilkan beras kualitas premium. Dimana dengan kualitas beras yang dihasilkan maka beras NTB bisa menembus pasar luar atau di ekspor. Mengingat NTB juga menyuplai beras ke beberapa daerah untuk memenuhi kebutuhan daerah tersebut.

“Betul (bisa ekspor beras, Red), kita memang berharap yang dihasilkan nanti akan menghasilkan beras kualitas premium yang bisa kita ekspor,” imbuhnya.

Proyek MRMP ini sendiri dari seluruh provinsi di Indonesia baru di 3 pulau. Yakni di Jawa, Sumatera dan NTB. Terlebih melihat potensi NTB yang produksi dan gabahnya cukup bagus. Untuk saat ini pembangunan MRMP di Sumbawa masih dalam proses pengerjaan.

“MRPM satu-satunya di provinsi NTB, bahkan dia hanya ada 5 unit di seluruh Indonesia di Jawa 3 unit, Sumatera 1 unit dan NTB 1 unit. Inilah yang menjawab keyakinan pemerintah bahwa memang provinsi NTB menjadi perhatian serius dari pemerintah,” bebernya.

Sementara itu di dalam kawasan pabrik MRPM Sumbawa tersebut terdiri dari pengering dengan kapasitas 120 ton per hari. Di mana terdapat 4 unit mesin pengering, dalam satu unit mesin saja mampu menghasilkan 30 ton per hari.

Kemudian penggilingan gabah atau rice milling unit (RMU) dengan kapasitas sebesar 6 ton per jam, dan silo atau tempat penyimpanan gabah dengan kapasitas 2 ribu ton. “Mesin dryer 30 ton dalam satu unit, kita punya 4 unit. Itu dalam sehari bisa 120 ton. Kemudian mesin RMU 6 ton perjam dan silo kapasitas 2000 ton per unit,” jelasnya.

Di sisi lain adanya proyek pembangunan MRPM ini nilai investasinya cukup besar. Di mana dengan nilai investasinya berkisar antara Rp60-70 miliar tergantung dari situasi. Karena penanganan tiap-tiap lokasi itu berbeda sehingga membutuhkan biaya yang berbeda. (dpi)