Tak Terima Diganti, Oknum Kasek di Lotim Segel Sekolah

Lombok Timur (Inside Lombok) – Salah satu sekolah di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) yaitu Madrasah Tsanawiyah NW Tanjung Luar, disegel oleh Kepala Sekolah (Kasek) . Hal tersebut dilakukan lantaran kepala sekolah tersebut tidak terima dimutasi dari jabatannya oleh pengurus yayasan.

Pengurus Yayasan Madrasah Tsanawiyah NW Tanjung Luar, H. Lalu Musa mengatakan bahwa penyegelan sekolah tersebut terjadi lantaran tidak terima dengan kepengurusan di yayasan tersebut.

“Saya sebagai pengurus yang sah dari pengurus NW Lombok Timur ingin membenahi madrasah tersebut, namun mendapat komplain dari Kepala Sekolah tersebut. Sehingga salah satu caranya, kami merolling jabatan,” ucapnya, di Lotim, Kamis (13/08/2020).

Musa menilai berhubung Kepala Sekolah tersebut sudah mengemban masa bakti selama delapan tahun, makan jabatan tersebut ia rolling dan meminta kepala sekolah tersebut menjadi guru pelajar di yayasan.

Belajar luring atau tatap muka di Lotim belum dibuka. Namun siswa yang mendapat tugas dari para guru harus menyerahkan tugasnya ke sekolah. Akibat dari penyegelan, maka para siswa tidak tahu caranya memberikan tugasnya ke guru.

“Saya melihat di sekolah tersebut, bagaimana agar semuanya berjalan dengan baik, makanya kepala sekolahnya saya rolling dan turun jabatan menjadi guru biasa,” jelasnya.

Dikatakannya, oleh karena itu kepala sekolah tersebut menyegel sekolah dan mengajak masyarakat untuk ikut komplain kepada pengurus yayasan.

Saat dikonfirmasi oleh Tim Inside Lombok di rumahnya, Moh Ali sebagai Kepala Sekolah yang dimutasi mengatakan, dirinya menyegel sekolah tersebut lantaran tidak pernah dilakukan mediasi, antara ia dan pengurus yayasan setempat.

“Saya dipecat jadi kepala sekolah tidak apa-apa. Namun, saya tidak terima SK yang dikeluarkan oleh yayasan yang saya anggap cacat prosedural,” katanya.

Ali ingin bagaimana permasalahan tersebut bisa terselesaikan dan bersatu dalam membangun yayasan. Dirinya sudah berkali-kali melayangkan surat kepada pengurus untuk dimediasi, namun tidak pernah direspon.

“Karena saya tidak direspon, makanya saya segel sekolah tersebut agar suara saya didengar,” ucapnya.

Lanjutnya, selama ia menjadi kepala sekolah tersebut, banyak perubahan yang ia lakukan dan masyarakat tidak ingin jika ia diberhentikan menjadi kepala sekolah.

“Tokoh masyarakat tidak ingin saya keluar, mengingat banyak perubahan yang saya lakukan,” tuturnya.

Jika tidak segera dimediasi, Ali berjanji akan menggelar aksi. Namun ia masih berharap ada tindak lanjut dari yayasan.