Warga Belum Patuhi Protokol Kesehatan, Kasus Positif Covid-19 di Loteng Meningkat

Lombok Tengah (Inside Lombok)- Kasus positif Covid-19 di Lombok Tengah terus mengalami peningkatan. Salah satunya disebabkan karena masih banyak warga yang tak acuh terhadap protokol pencegahan.

Tercatat, pada Senin (1/6/2020), jumlah pasien positif covid-19 sebanyak 74 orang.  Dengan rincian sebanyak 50 orang masih menjalani perawatan. Kemudian 24 orang sembuh dan tidak ada orang meninggal dunia.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lombok Tengah selaku Ketua Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Lombok Tengah, H. M. Nursiah, Selasa (2/6/2020) mengatakan, peningkatan kasus positif Covid-19 beberapa waktu belakangan ini karena masyarakat masih kurang disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan Covid-19.

“Banyak yang tidak pakai masker padahal sudah difasilitasi pemberian 2 juta masker.  Tidak cuci tangan pakai sabun di air mengalir dan jaga jarak tidak dilakukan”,katanya.

Sementara penularan Covid-19 ini tidak mengenal batas ruang, waktu dan juga tempat. “Kuncinya disiplin kalau mau Covid-19 ini berlalu”,tekannya.

Dikatakan, disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan ini tidak bisa hanya digalakkan oleh pemerintah daerah. Akan tetapi, harus berbasis desa hingga dusun atau kelurahan. Sehingga bisa diterapkan juga di tingkat rumah tangga.

“Banyak di  kecamatan Praya Timur kemarin yang positif Covid-19. Kita lihat masyarakat tidak pakai masker”,ujarnya.

Dia melanjutkan, kalau upaya pencegahan Covid-19 yang dilakukan pemerintah daerah ini tidak diimbangi oleh sikap disiplin masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan,  maka kasus Covid-19 ini diperkirakan akan terus meningkat.

Pemerintah juga berupaya untuk menekan kasus Covid-19 melalui kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Dusun (BSBD) yang sudah diterapkan. Akan tetapi, kebijakan itu nyatanya belum berjalan maksimal di tingkat bawah.

“Sehingga kita dorong desa buat awik-awik mengatur sanksi bagi yang tidak disiplin patuhi Covid-19”,katanya.

Sejauh ini, pihak desa dan kelurahan hanya melakukan pengawasan ketat terhadap Buruh Migran Indonesia (BMI) yang pulang kampung.

“Tapi mereka mengabaikan warganya yang keluar masuk. Mereka juga berpotensi membawa Covid-19”,imbuh Nursiah.