Polemik Harga Avtur Penyebab Mahalnya Tiket Pesawat

Mataram (Inside Lombok) – Mahalnya tiket pesawat menjadi persoalan yang ramai diperbincangkan beberapa pekan terakhir. Berbagai kalangan mengeluhkan tingginya harga tiket pesawat. Ironinya harga tiket pesawat rute penerbangan domestik lebih mahal daripada ke luar negeri.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Polana mengatakan bahwa Januari dan Februari sering terjadi low season. Oleh karena itu, banyak maskapai penerbangan yang memanfaatkan dan memaksimalkan tarif tiket sesuai tarif batas atas dan masih dalam batas wajar.

Polana menjelaskan harga tiket saat ini tidak melanggar ketentuan PM 14 tahun 2016 tentang mekanisme perhitungan formula perhitungan dan penetapan tarif batas atas dan batas bawah penumpang pelayanan kelas ekonomi angkut udara niaga berjadwal dalam negeri.

Diketahui penyebab utama dari lonjokan tiket pesawat adalah harga avtur yang dijual pertamina lebih mahal daripada di Singapura. Harga avtur memengaruhi 25 hingga 40 persen dari tiket pesawat.

Dilansir dari CNBCIndonesia.com monopoli harga avtur PT Pertamina (Persero) ini memiliki dampak yang signifikan. Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bima Yudhistira Adhinegara mengatakan, avtur menyumbang 25 persen dari harga tiket pesawat. Jadi, apabila ada kenaikan avtur, maka akan berdampak signifikan.

“Kalau digali lebih dalam ternyata akar permasalahan ada di distribusi avtur yang belum efisien. Pertamina dan pemerintah terlambat membangun infrastruktur penyaluran avtur ke bandara di luar jawa, ujar Bima kepada pers pada Selasa (12/02/2019).

Contohnya, pada data pertamina 12 Februari 2019, bahan bakar avtur jenis Jet A di Jakarta dijual Rp8.210 per liter. Sedangkan, di Medan dijual sebesar Rp9.320 per liter. Selisih harga keduanya terlalu lebar hingga 13,5 persen.

Padahal pada prinsipnya harga avtur sama dengan harga BBM jenis nonsubsidi, dan sama di semua wilayah Indonesia.

Hal yang memengaruhi pemakaian bahan bakar pesawat antara lain:

  1. Setiap barang yang dibawa oleh penumpang akan membuat pesawat lebih berat karenanya membakar lebih banyak bahan bakar. Jadi, biaya operasional pesawat lebih tinggi apabila penumpang membawa banyak barang.
  2. Kemana pesawat akan terbang. Jadi, semakin jauh pesawat terbang tentunya volume bahan bakar lebih banyak dihabiskan.
  3. Desain baru pesawat yang digunakan (beda harga antara pesawat Boeing dengan Airbus)

Dikutip dari tribunnews.com, Pengamat Penerbangan, Arista Atmajati mengatakan selain karena avtur, mahalnya tiket pesawat dipicu oleh perusahaan penerbangan yang tengah menerapkan pila Dynamic Pricing.

Dynamic Pricing merupakan harga produk dan jasa akan bervariasi untuk satu produk dan jasa yang sejenis berdasarkan penentuan harga pada kondisi tertentu.

Harga avtur di Indonesia saat ini tergolong tinggi. Dilansir dari Internasional Air Transport Association (IATA), harga rata-rata avtur per 8 Februari 2019 mencapai $77,75/blue barrel (bbl).

Jika dikonversikan, maka jumlahnya setara dengan Rp6.870 per liter dengan kurs dolar Rp14.048,05. Harga ini lebih rendah 28 persen dibandingkan dengan rata-rata avtur pertamina pada Rp9.671 per liter yang berlaku sampai 14 Februari 2019.

Direktur Eksekutif ReforMiner, Komaidi Notonegoro mengatakan bahwa harga avtur Indonesia yang masih kompetitif membuat tidak sepantasnya menyalahkan Pertamina atas tingginya harga tiket pesawat dan bagasi berbayar. Sehingga harus menurunkan harga avtur.

“Coba banyangkan, tidak diturunkan saja keuangannya sudah empot-empotan, apalagi diturunkan. Pertamina hanya mencatatkan lava sebesar Rp5 triliun pada kuartal III/2018, turun jauh dari periode sama tahun sebelumnya yakni sekitar Rp26,8 triliun,” ujar Komaidi uang dikutip dari tirto.id.

Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk juga mengatakan bahwa harga avtur tidak langsung memengaruhi harga tiket pesawat, Biaya sewa operasional lain dan perawatan pesawat yang membuat mahalnya tiket pesawat. Selain itu juga, harga tiket pesawat menjadi lebih tinggi karena nilai tukar dolar Amerika Serikat yang tidak begitu baik.

Mendengar kabar monopoli avtur yang dilakukan PT Pertamina, Presiden Joko Widodo mengaku kaget. Presiden akan memanggil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati untuk meminta kejelasan atas apa yang terjadi.

Presiden Jokowi yang kemudian menggelar rapat dengan sejumlah menteri terkait pada Rabu (13/02/2019) di Istana Merdeka. Rapat terbatas ini membahas harga avtur yang dinilai terlalu tinggi.

Rapat yang digelar di Istana dihadiri Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimulyono.

Untuk itu presiden menginstruksikan menteri terkait agar mengevaluasi harga avtur sehingga tidak terlalu memberatkan perusahaaan penerbangan. Presiden juga meminta agar perusahaan penerbangan terkait menurunkan harga tiket pesawat yang menjadi persoalan di masyarakat.

“Tadi, saya sudah perintahkan menteri untuk dihitung ya mana yang belum efisien, mana yang bisa diefisiensilan. Nanti akan segera diambil keputusan,” ujar Jokowi dalam siaran pers yang diterima Inside Lombok.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumandi mengatakan akan mengusahakan penurunan harga tiket pesawat dalam waktu dekat. Lebih lanjut Budi menjelaskan apabila harga avtur bisa lebih kompetitif maka tidak akan memengaruhi harga tiket pesawat.

Atas arahan Presiden Jokowi, Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Ashkara, harga tiket pesawat seluruh rute penerbangan dipangkas hingga 20 persen mulai Kamis (14/02/2019).

“Hal ini sejalan dengan aspirasi masyarakat dan sejumlah asosiasi industri, serta arahan Bapak Presiden RI mengenai penurunan tarif tiket penerbangan,” ujar ari yang dikutip dari cnnindonesia.com.

Ari menjelaskan penurunan harga tiket pesawat ini dilakukan untuk mendukung peningkatan sektor perekonomian nasional seperti sektor pariwisata, ataupun UMKM.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa penurunan harga tiket akan menjadi komitmen yang bekelanjutan Garuda Indonesia Group dalam memberikan layanan penerbangan yang berkualitas dengan tarif tiket penerbangan yang kompetitif.

Pertamina pun merespon akan segera menurunkan harga avtur pada Selasa (12/02/2019). Penyesuaian harga akan dilakukan setelah meninjau harga avtur.

Kini harga avtur turun menjadi Rp7.960 per liter dari sebelumnya Rp8.210 per liter. Melalui keterangan resminya, Media Communication Manager Pertamina, Arya Dwi Paramita menjelaskan harga baru avtur yang berlaku pada 16 Februari 2019 ini sesuai dengan keputusan Menteri ESDM no.17/2019.

Arya menjelaskan bahwa keputusan yang diambil merupakan hasil dari pertimbangan rata-rata harga minyak dunia, nilai tukar rupiah dan faktor lainnya. Hasil ini adalah kesepakatan pertamina dan maskapai penerbangan.

“Pertamina berharap penurunan harga avtur ini juga merupakan bentuk dukungan Pertamina terhadap industri penerbangan nasional, yang diharapkan juga berdampak pada industri lainnya termasuk pariwisata,” ujar Ari pada wartawan cnbcindonesia.com.

Akibatnya sejumlah warga lebih memilih transportasi alternatif lain. Hal ini membuat jumlah penumpang pesawat menurun dan di sejumlah bandara terlihat relatif lebih sepi penumpang. Kemudian di kios check ini tidak terlihat antrean seperti saat harga tiket pesawat dan bagasi berbayar belum diterapkan.

Tidak hanya itu, pedagang dan porter di bandara juga ikut merasakan dampak dari mahalnya tiket pesawat. Kurangnya wisatawan menggunakan transportasi udara membuat omzet dagangan turun tipis. Begitu juga dengan sejumlah porter yang mengaku pendapatannya turun drastis.

Efek lain berimbas pada dunia pariwisata. Salah satunya Lombok, Nusa Tenggara Barat yang memiliki banyak destinasi wisata indah nan menarik yang dapat dikunjungi wisatawan.

Namun, akibat mahalnya harga tiket dan bagasi berbayar membuat kondisi pariwisata Lombok yang belum sepenuhnya pulih setelah guncangan gempa. Apalagi saat ini sedang masa low season kunjungan wisatawan.